Asesmen riset pasar utk kopi dan madu

Image dari Gogel

Dua hari ini Rado dan Gunawan Uuk sibuk diskusi utk mempersiapkan hal-hal terkait asesmen yg akan dilakukan ke Medan dan Aceh. Di Medan topiknya adalah kopi dan di Aceh topiknya adalah madu alam. Mereka berdua membahas hal-hal apa saja yg akan didapat dlm asesmen ini. Saya hanya menguping saja sambil mengerjakan pekerjaan saya sendiri.

Lalu kami bertiga berdiskusi mengenai riset pasar tsb, produk2 unggulan dan rencana bisnisnya. Ini sangat menarik dan menantang. Saya tidak paham ttg riset pasar dan penyusunan rencana bisnis, tapi saya melihat dari kacamata org awam saja.

Tentu saja produk2 unggulan yg akan diangkat oleh Penabulu adalah produk2 yg ramah lingkungan. Ini artinya produk2 itu digarap dg input kimia rendah dan lebih banyak menggunakan input organik. Ada standar2 tertentu agar produk2 itu dpt didistribusikan kepada para konsumen Penabulu (dlm hal ini pelakunya tdk harus Penabulu itu sendiri, tapi bisa jejaring yg dibuat oleh Penabulu). Tujuan akhir Penabulu adalah keberdayaan dan keuntungan ekonomi masyarakat. Apabila masyarakat dampingan dapat menjadi berdaya, mandiri, dan sejahtera maka visi misi Penabulu akan tercapai dg sendirinya.

Nah, dlm melakukan asesmen riset pasar ini sangat penting bagi para pelakunya utk mempunyai pengetahuan dan ketrampilan terkait dg topik asesmennya. Di samping itu perlu ada tools asesmen utk mempermudah kegiatan di lapangan. Tools sederhana adalah dg mengembangkan formulir, daftar pertanyaan, daftar peralatan, daftar literatur dll yg dibutuhkan selama kegiatan lapangan ini.

Selain itu pengetahuan yg luas akan sangat membantu selama kegiatan lapangan tsb. Contoh dlm ini Rado dan Uuk saat di Medan mengkaji kopi dan di Aceh mengkaji madu alam. Disini madu alam adalah madu yg didapatkan dari alam langsung, jadi yg dilakukan para produsen madu alam adalah mengumpulkan madu dari hutan. Para produsen madu ini tdk beternak lebah, tapi lebih pada pemburu dan pengumpul madu. Beternak madu dan berburu madu alam adalah dua hal yg sangat berbeda. Hal ini ibarat manusia jaman batu dulu, yaitu antara manusia dg budaya pemburu dan pengumpul dengan budaya pertanian dan bercocok tanam.

Image dari Gogel: Panen madu alam

Produksi madu alam sangat rentan dg situasi dan kondisi alam (hutan) itu sendiri. Dalam hal ini situasi dan kondisi itu sering kali di luar kontrol manusia yg bersangkutan, walaupun mereka berada di lokasi yg sama. Kerusakan lingkungan, pencemaran, illegal logging, pemburu hewan langka dll akan sangat mempengaruhi keberadaan para lebah alam yg memproduksi madu tsb. Jadi kalau biasanya para pemburu/pengumpul madu alam dlm sekali perjalanan masuk hutan hanya makan waktu 3 hari utk pulang pergi, tapi dg adanya kerusakan lingkungan maka mereka akan semakin lama waktunya hutan “beroperasi” di dalam hutan. Dan ini tentu saja akan makan biaya yg semakin besar.

Selain itu para pemburu/pengumpul madu alam itu biasanya “beroperasi” di hutan2 yg masih bagus kondisinya. Sekarang ini hutan2 yg masih bagus hanya ada di taman nasional atau hutan lindung. Jadi, kalau para pemburu/pengumpul madu alam itu beraktivitas di hutan lindung atau taman nasional akan ditangkap oleh para Jagawana karena dianggap sbg perusak lingkungan.

Pertanyaanya adalah bagaimana menjaga keberlanjutan produksi madu alam itu? Oleh karena madu alam sangat tergantung pada kondisi hutan alam yg lestari maka apakah Penabulu akan terjun juga pada konservasi hutan atau konservasi spesies (spt harimau, gajah, dll)? Utk menjawab hal ini ada bbrp altternatif pilihan tindakan, antara lain:

1. Menjaga produksi madu alam tetap lestari.

Syarat utama produksi madu alam tetap lestari adalah kelestarian hutan alam. Disini jelas Penabulu tdk akan terjun langsung pada isu-isu konservasi (baik tumbuhan maupun hewan). Langkah yg cerdik adalah Penabulu membangun kerjasama dg lembaga2 konservasi yg sudah ada (spt WWF, Greenpeace, Walhi, dll) dan pemerintah daerah (otoritas taman nasional/hutan lindung, Dinas LH dan Kehutanan, dll). Masing2 lembaga bekerja pada tugas dan fungsinya yg berbeda.

2. Mengembangkan madu ternak

Utk hal ini bisa langsung dikerjakan oleh masyarakat dampingan. Akan tetapi, harus diingat adalah sekali lagi ada perbedaan budaya antara pengumpul/pemburu madu alam dan peternak lebah. Jadi agar pengembangan madu ternak bisa jalan hal-hal yg dilakukan adalah penguatan kapasitas dlm hal pengenalan lebah ternak beserta ruang dan siklus hidupnya, mengelola kandang lebah, menyediakan “pakan” lebah ternak, memanen, dan mengemas produk.

3. Mengembangkan produk madu ternak dg produk lain (spt kopi organik misalnya)

Di beberapa tempat sudah banyak dipasarkan madu ternak rasa kopi. Ini maksudnya adalah madu itu dihasilkan dari ternak lebah di kebun-kebun kopi yg dikelola oleh masyarakat. Jadi dlm sekali jalan akan mendapatkan 2 produk, yaitu kopi dan madu. Tanaman dan lebah itu sendiri adalah simbiosis mutualisme. Jadi, tanaman kopi dpt tumbuh dg bagus, dan lebah dpt menghasilkan madu yg khas pula.

Image dari Gogel

Selain itu bisa juga mengembangkan kopi luwak. Di banyak tempat kopi luwak dihasilkan dg membuat kandang para luwak di satu tempat. Dari hasil panen kopi yg sudah matang kemudian ditaruh di kandang2 itu. Lalu, para luwak memakan kopi tsb. Dan petani tinggal mengumpulkan kotoran2 para luwak dan diolah utk jadi kopi luwak yg harganya sangat mahal itu. Dlm praktik sudah banyak pula protes oleh lembaga2 penyayang binatang, karena tindakan mengurung para luwak utk dijadikan “mesin produksi” kopi luwak adalah sangat tidak “berperi-kebinatangan”. Mungkin bisa dibuat sebuah kandang luwak atau suatu mekanisme yg lebih “berperi-kebinatangan” agar para luwak itu dpt merasa aman dan nyaman sbg “mesin produksi” kopi luwak.

Jadi, kesimpulan besarnya adalah yg semula hanya asesmen produk berbeda di dua tempat yg berbeda akan dpt nyambung dg pemikiran spt di atas.

Kembali kepada asesmen riset pasar, apabila si pelaku riset pasar ini sebelumnya mempunyai pengetahuan ttg informasi hal2 spt di atas maka ketika di lapangan hal-hal yg akan dikejar juga akan semakin banyak dan luas. Sebagai hasilnya adalah rencana bisnis yg akan dibuat juga akan semakin lengkap dan mencakup banyak bidang.

Begitu secara garis besar diskusi antara Rado, Uuk dan saya di Tower 3 kemarin.

Bagaimana pendapat anda?