Berbuat atau Tidak Berbuat?

Image dari Gogel

Di bawah email2 RDP ada tulisan “Nothing I Can’t Do”. Tulisan ini pastilah ada maksudnya, dan kalau tidak ada tujuannya maka tak akan ditaruh disitu. Tentunya ini suatu filosofi yg sangat dalam dari RDP. Apa maksudnya dg “tidak berbuat”? Berbuat dan Tidak Berbuat?

Sebenarnya kalau melihat lebih cermat, “tidak berbuat” sudah suatu perbuatan, yaitu melakukan tindakan untuk tidak bertindak. Ini seperti waktu jaman pemiihan umum dulu. Ketika hanya ada 3 kontestan pemilu, Golkar, P3 dan PDI maka pilihannya adalah:

1. Mencoblos salah satu konstentan pemilu.

2. Tidak mencoblos salah satu konstenstan pemilu (lebih dikenal dg nama “Golput) dg cara spt:
a. Tdk menggunakan hak pilihnya (tdk datang ke TPS).
b. Merusak kartu suara (mencoblos lebih dari satu kontestan, mencoret2, merobek, dll).
c. Tdk mengutak-atik kartu suara.

Disini mencoblos atau pun tidak mencoblos (golput) adalah suatu tindakan memilih. Ini adalah memilih utk mencoblos dan memilih utk tdk menggunakan hak pilihnya. Mana yg benar dan yg paling baik? Tergantung pada masing2 orangnya.

Kembali kepada “Berbuat dan Tidak Berbuat”. Semua ini adalah masalah pilihan. Pertanyaan selanjutnya adalah dlm melakukan pilihan itu apakah dilakukan secara sadar (aware) atau asal comot saja. Biar tampak keren gitu, kata org. Atau ikut2an. Kenapa? Karena kesadaran berkaitan erat dg pemahaman diri dan konsekuensi dari hasil pilihan itu. Soal umur seseorang tdk berkorelasi dg tingkat kesadaran ini karena banyak orang yg muda usia tapi mempunyai pemahaman diri yg sangat penuh atau sebaliknya orang usia tua yg perilakunya masih spt anak2.

Jadi, kesimpulannya, pastilah RDP yg memasang filosofi “Tidak Berbuat” ini sudah mencapai pemahaman diri yg penuh. Contoh anak muda yg berkesadaran, empatik, dan bertanggung gugat. Ibarat kalau baca silah Kho Ping Hoo, pendekar yg bersilat tanpa jurus lagi.